Sebelum kita membahas lebih jauh tentang data atribut atau tabel, kita akan belajar terlebih dahulu cara memilih atau menandai (select) data karena akan menjadi dasar terhadap pem?bahasan yang lain.

Mengingat data grafis selalu terkoneksi dengan data atribut. Pemilihan data pada data atribut juga akan menandai data grafis pada record yang bersesuaian, begitu pula sebaliknya. Per?hatikan gambar di bawah ini.
Gambar 4.9. Data grafis dan atribut saling terkoneksi.
Data yang ditandai baik pada data atribut maupun data grafis biasanya berwarna kuning. Anda dapat mengganti warna tersebut dengan warna lain. Caranya adalah aktifkan window projek, pilih Properties dari menu Project. Klik tombol Selection Color kemudian tentukan warna yang diinginkan, seperti pada gambar berikut.

a b
Gambar 4.10. Kotak dialog properti projek (a) dan daftar pilihan warna (b).
Menandai data dapat dilakukan dengan 2 cara. Pertama penandan data secara langsung. Cara pertama dapat dilakukan pada tabel (penandaan record) dan pada view (penandaan objek). Kedua penandaan data dengan menggunakan fasilitas query. Cara kedua ini dapat dilakukan pada tabel ataupun pada view.
Tutorial ArcView GIS ini secara lengkap telah tersedia dalam bentuk buku dan telah dijual di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Judul Buku: Belajar Sendiri Menganalisis Data Spasial dengan ArcVeiw GIS 3.3 untuk Pemula, Pengarang: I Wayan Nuarsa, Penerbit: Elexmedia Komputindo Jakarta. Pesan secara on-line dapat discount, klik disini.
Introduction to GIS
GIS singkatan dari Geographic Information System atau Sistem informasi Geografis. GIS merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengelola (input, manajemen, proses, dan output) data spasial atau data yang bereferensi geografis. Setiap data yang merujuk lokasi di permukaan bumi dapat disebut sebagai data spasial bereferensi geografis. Misalnya data kepadatan penduduk suatu daerah, data jaringan jalan suatu kota, data distribusi lokasi pengambilan sampel, dan sebagainya.
2.1.1 Macam-macam Data pada GIS
Data GIS dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu data grafis dan data atribut atau tabular. Data grafis adalah data yang menggambarkan bentuk atau kenampakan obek dipermukaan bumi. Sedangkan data tabular adalah data diskriptif yang menyatakan nilai dari data grafis tersebut.
a. Data Grafis
Secara garis besar data grafis dibedakan menjadi 3 macam, yaitu data titik (point), garis (line/polyline), dan area (region/poligon). Data grafis titik biasanya digunakan untuk mewakili objek kota, stasiun curah hujan, alamat customer dll. Data Garis dapat dipakai untuk meng?gambar?kan jalan, sungai, jaringan listrik dll. Sementara data Area digunakan untuk mewakili batas administrasi, penggunaan lahan, kemiringan lereng dll. Gambar di bawah ini memberikan ilustrasi tentang macam-macam data grafis.
a b c
Gambar 2.1. Contoh macam-macam data grafis, (a) data titik, (b) garis, dan (c) area.
Sementara struktur data GIS ada 2 macam, yaitu vektor dan raster. Pada struktur data vektor, posisi objek dicatat pada sistem koordinat, Di sisi lain, objek pada struktur data raster disimpan pada grid 2 dimensi yaitu baris dan kolom. Untuk memperjelas pemahaman tentang struktur data GIS, perhatikan gambar di bawah ini.


Gambar 2.2. Contoh struktur data GIS, bagian atas struktur data vektor, bagian bawah raster.
b. Data Atribut
Data atribut atau tabular menyimpan informasi tentang nilai atau besaran dari data grafis. Untuk struktur data vektor, data atribut tersimpan secara terpisah dalam bentuk tabel. Sementara pada struktur data raster nilai data grafisnya tersimpan langsung pada nilai grid atau piksel tersebut. Cara penyimpanan data atribut dan koneksi antara data grafis dan atribut pada struktur data vektor dan raster disajikan pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.3. Cara penyimpanan data atribut pada struktur data vektor, (a) data grafis dan (b) data atribut.
Gambar 2.4. Cara penyimpanan data atribut pada struktur data raster.
Join Table
Join antar tabel digunakan untuk mengambil data dari suatu tabel (source) untuk ditampilkan pada tabel yang sedang aktif (destination). Misalnya kita mempunyai data grafis titik yang menyatakan lokasi tempat pengambilan sampel tanah di lapangan. Tabel dari theme ini hanya berisi informasi tentang koordinat geografis dan ID dari masing-masing sampel. Tampilan dari theme dan informasi tabelnya adalah sebagai berikut.
a b
Gambar 4.34. Lokasi pengambilan sampel tanah, (a) data grafis, (b) data atribut.
Dari gambar tersebut ada sebanyak 74 titik sampel. Sementara dari hasil analisis tanah di laboratorium, kita mempunyai data tentang sifat kima tanah tersebut dalam bentuk data tabel terpisah (tabel dBASE) dengan nama tanah.dbf seperti pad gambar di bawah ini.
Gambar 4.35. Data hasil analisis tanah dalam tabel terpisah.
Dari kedua tabel tersebut kita akan membuat join tabel berdasarkan field ‘Id’ pada data atribut theme ‘Sampel’ dan field ‘No’ pada tabel ‘Tanah’. Urutan kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Buka theme sampel.shp yang menyimpan informasi tentang lokasi pengambilan sampel tanah pada suatu view.
2. Aktifkan data atribut dari theme tersebut dengan mengklik toolbar Open Theme Table ().
3. Pada window projek tabel, tambahkan tabel tanah.dbf yang berisi informasi hasil analisis tanah dengan men-klik tombol Add. Tampilan window projek tabel akan tampak seperti pada gambar di bawah ini.
Gambar 4.36. Data atribut sampel.shp dan tabel.dbf telah aktif.
4. Bila belum dibuka, klik tombol Open untuk menampilkan isi tabel tanah.dbf sebagai data sumber (source). Aktifkan field ‘No’ dengan mengklik nama fieldnya sebagai key field dalam join.
5. Dalam posisi tabel tanah.dbf masih terbuka, apabila tabel atribut sampel.shp belum dibuka, pilih Attribute of Sampel.shp dan klik Open untuk membukanya. Tabel ini akan digunakan sebagai penerima data (Destination. Aktifkan field ‘Id’ sebagai key field dalam join. Nama key field pada tabel sumber dan tabel tujuan boleh berbeda, tetapi tipe data harus sama, dalam contoh di atas keduanya bertipe numerik.
6. Pada posisi tabel tujuan (Attribute of Sampel.shp) aktif, Klik menu Table - Join atau klik toobar atau tekan Ctrl+J. Tabel sumber (tanah.dbf) akan ditutup, sedangkan informasi field-fieldnya akan ditambahkan pada tabel tujuan. Perhatikan gambar di bawah ini.
Gambar 4.37. Tampilan tabel setelah proses Join.
Apa yang dapat dilakukan setelah join tabel terbentuk ?
1. Seperti layaknya data atribut dari suatu theme biasa, pemilihan atau select objek pada theme atau record pada tabel akan menandai kedua data (grafis dan atribut) pada record yang bersesuaian.
2. Penggunaan fasilitas Identify () baik pada tabel ataupun pada view akan menampilkan informasi yang lengkap, sehingga kita dapat melihat informasi tabular pada view untuk dua tabel secara bersamaan.
Gambar 4.38. Perintah identify menampilkan seluruh informasi 2 tabel.
3. Manipulasi tabel dan Calculate field tetap dapat dilakukan, tetapi terbatas pada tabel tujuan.
4. Apabila anda menginginkan hasil join ini tersimpan secara permanen sebagai satu tabel beserta data grafisnya. Anda harus menyimpan ulang shapefile-nya. Caranya adalah, aktifkan view dan tandai theme sampel tersebut. Yakinkan bahwa tidak ada objek yang dipilih, kalau tidak hanya objek yang terpilih saya yang akan disimpan. Dari menu Theme pilih Convert ti Shapefile. Isikan nama dan klik OK.
Gambar 4.39. Menyimpan shapefile agar semua data pada join tabel tersimpan.
Bila join data sudah tidak diperlukan lagi, anda dapat menghapus join antar tabel dengan menu Table - Remove All Joins.
Catatan
- Bila anda melakukan Join tabel A ke tabel B, anda tidak dapat melakukan Join tabel B ke tabel C.
- Join tidak dapat dilakukan bila field yang digunakan sebagai basis Join mempunyai tipe yang berbeda.
- Join tidak dapat dilakukan bila tabel sumber (source) sedang dapat posisi editable.
- Anda dapat melakukan join pada tabel tujuan (tabel yang aktif saat mengambil perintah join) yang sedang dalam posisi join.
Sort Data on Tabel
Untuk memudahkan melihat informasi pada suatu tabel, maka tabel dapat diurutkan berdasar?kan urutan tertentu. Urutan data dapat dilakukan secara Ascensing (urutan menaik, bila angka dari 0 ? 9, kalau huruf dari A ? Z) atau Descending (Urutan menurun, 9 ? 0, Z ? A).
Mengurutkan data dimulai dengan menandai field yang akan digunakan sebagai basis pengurut?an, kemudian pilih menu Field - Sort Ascending untuk pengurutan menaik, atau Field - Sort Descending untuk pengurutan menurun. Di bawah ini adalah contoh tabel yang telah diurutkan berdasarkan field Total secara Decending.
Gambar 4.55. Tabel yang telah diurut menurut field Total secara Descending.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa total penduduk yang paling banyak akan ditempatkan pada record pertama, kemudian di bawahnya diikuti dengan total penduduk yang lebih kecil, sampai pada baris terakhir adalah total penduduk yang paling sedikit.
Layer Control in MapInfo – MapInfo Tutorial
Kapan suatu layer dapat ditampilkan di layar monitor (visible), dapat dipilih (Selectable), diedit (editable), atau diberikan label automatis? Anda tidak dapat memilih bagain peta apabila Layer tidak dalam keadaan Selectable. Andapun tidak bisa melakukan suatu perubahan pada peta (menambah, mengedit, atau menghapus objek) bila layer tidak Editable. Nah, untuk mengatur keberadaan layer tersebut, kita harus menggunakan kotak dialog Layer Control. Dari menu Map, pilih Layer Control atau klik toolbar Layer control atau tekan Ctrl+L dari keyboard. Kotak dialog berikut akan muncul.
Gambar 5.9. Kotak dialog Layer Control.
Perlu diingat bahwa menu atau toolbar Layer Control tidak akan aktif bila tidak ada satupun layer yang tampil di layar, walaupun layer telah aktif di memori.
Banyak hal yang dapat kita lakukan dengan Layer Control ini.