Ia (Ruh) turun kepadamu (hai tubuh manusia) dari tempat yang tinggi.
(Bagaikan) merpati (jinak, tetapi) enggan dan menghindar.
Terselubung terhadap pelupuk setiap pemandang
Padahal ia yang membuka wajah dan tanpa cadar
Ia tiba kepadamu dengan terpaksa, dan boleh jadi
enggan berpisah kendati ia penuh keluhan
Enggan dan tidak senang (menyatu denganmu) tetapi begitu menyatu
Akhirnya terbiasa, bersanding dengan kebobrokan yang kumuh
Kuduga ia lupa janji-janjinya ketika ia berada di alamnya yang tinggi

Ia menangis bila mengingat janji-janji di alamnya yang luhur
Mencucurkan air mata, deras, tiada henti
Ia pun terus berkicau menangisi puing-puing
Yang telah runtuh oleh kisaran angin dari empat penjuru
Itu karena ia terhalangi oleh jeratan yang kuat dan dibendung
Oleh sangkar, sehingga tak lepas ke angkasa luas

Hingga jika telah mendekat jalan menuju asalnya…
Mendekat pula saat ia berpisah ke angkasa yang luas
Lalu berangkat berpisah dengan semua yang ditinggal…
Ditinggal remeh bersama tanah… dan tanpa berpamit…
Ketika itu… mendadak dibuka tabir, dan terlihatlah. ..
Apa yang tak terjangkau mata yang disentuh kantuk
Ia pun berkicau di atas puncak yang amat tinggi
Begitulah ilmu, meninggikan semua yang belum tinggi
(Mungkin ada yang bertanya, jika memang ruh gembira dengan kepulangannya)

Nah, mengapa ia diturunkan dari tempat yang tinggi,
Menuju kedalaman yang sangat rendah dan hina?
Ia diturunkan Tuhan, untuk suatu hikmah,
Yang tidak terjangkau oleh cendekia yang sangat bijak!
Tak pelak lagi, turunnya adalah keniscayaan
Agar menjangkau apa yang belum dijangkaunya.
Guna meraih semua rahasia, rahasia kedua alam,
Sobekan bajunya tak perlu dijahit.
Masa menghadang perjalanannya, kendati demikian,
Ia terbenam, tidak serupa ketika terbitnya.
Ia seakan kilat, cemerlang di bentengnya yang tinggi
Lalu redup, menghilang bagai tak pernah berkilau…